Universitas Montreal: Game FPS Mengakibatkan Kerusakan Otak


Share

Video Game selalu saja menjadi hal yang menarik untuk dibicarakan terutama terkait dengan hubungan game itu sendiri terhadap kemampuan otak baik kemampuan kognitif maupun kemampuan refleks itu sendiri. Klaim tersebut kadang kali digunakan oleh banyak orang sebagai dasar pembenaran. Sebagai contoh, bila klaim menunjukkan hubungan positif, dapat menjadi pembenaran untuk bermain game setiap saat, sedangkan bila klaim menunjukkan hubungan negatif akan menjadi klaim bagi orang tua untuk melarang anak bermain game.

Ada beberapa klaim yang menyatakan video game memunculkan sifat kekerasan, mengajarkan prasangka dan seksisme hingga kerusakan otak. Tapi ada juga yang meneliti bahwa video game memberikan efek positif terhadap kemampuan motorik, penyelesaian masalah, dan kemampuan mengingat nama. Kali ini Universitas Montreal melalui penelitiannya ikut menambah daftar negatif video game, terutama untuk genre First Person Shooter (FPS).

Penelitian yang dilakukan terhadap 100 orang peserta yang diminta untuk bermain game FPS selama 90 jam seperti Killzone, Call of Duty, dan Borderland. Setelah bermain permainan tersebut, penelitian menunjukkan adanya perubahan yang terlihat dibandingkan dengan seseorang yang tidak bermain video game sama sekali. Peneliti mengklaim bahwa bermain game FPS akan mengaktifkan mode “autopilot” pada otak, sehingga hippocampus akan berkurang seiring waktu, sehingga menyebabkan hilangnya ingatan, depresi, hingga schizophrenia. Para peserta tersebut kemudian diminta untuk menyelesaikan game 3D puzzle yang lebih memerlukan tingkat pikir yang tinggi serta kemampuan mengenali ruang lebih baik. Game genre tersebut menguatkan hippocampus.

Bagaimana? Bagi para kalian gamers Point Blank, CS:GO, Battlefield, dan Call of Duty? Mungkin harus berpikir ulang untuk bermain game FPS? Kita tunggu penelitian tandingan lainnya karena tentu zaman sudah berubah untuk bermain sepeda di jalan raya.

Artikel Terkait: