top banner ulasan top banner ulasan

Strategi Microsoft untuk Menghadirkan Update Terus Menerus untuk Windows 10 Menjadi Sulit Terjadi

Microsoft Logo

Analis berargumen bahwa Microsoft seharusnya mengurangi update besar untuk Windows 10 menjadi sebagian dan meminta Microsoft untuk fokus memberikan dukungan keamanan untuk setiap versi yang hadir selama 24 bulan.

Pernyataan tersebut keluar karena seperti yang kita ketahui, Windows 10 memiliki pola pembaruan yang cepat dan memiliki waktu dukungan yang pendek dibandingkan dengan sistem operasi sebelumnya, sebut saja Windows 7 dan Windows 8 yang bahkan masih didukung keamanannya oleh Microsoft.

Microsoft sendiri memiliki visi untuk mengubah Windows menjadi sebuah layanan, maksudnya apa? Sederhananya seperti kalian membuka Facebook atau Instagram, kalian akan mendapatkan pembaruan fitur seketika dan saat itu juga. Tapi sepertinya untuk menghadirkan update cepat seperti itu, Microsoft mengorbankan dukungan keamanan softwarenya hanya menjadi 18 bulan saja. Di satu sisi, dengan update yang gratis, Microsoft mungkin berpikir bahwa 18 bulan adalah waktu yang cukup untuk memberikan tenggat waktu bagi pengguna untuk melakukan pembaruan ke versi selanjutnya. Tapi ternyata tidak semua pengguna aktif melakukan update sistem operasi mereka karena banyak dan lain hal.

Microsoft Windows Update

Komitmen Microsoft untuk memberikan update versi 2 kali setiap tahunnya berarti setidaknya setiap 6 bulan akan ada 1 versi baru keluar. Jumlah itu bagi sebagian besar orang dinilai sangat merepotkan terutama di kalangan korporat. Sehingga analis mengeluarkan pendapat bahwa peningkatan fitur 1 kali setiap tahun sudah cukup banyak di dunia korporat. Penulis sendiri berpikir mungkin karena kalangan korporat lebih mengutamakan kestabilan dan keamanan dibandingkan dengan fitur-fitur yang banyak tidak terpakai di kelas korporat.

Sedangkan di kelas konsumer, bukan rahasia lagi kalau fitur Windows Update di sistem operasi Windows 10 tidak bisa dimatikan dengan cara biasa. Sekalipun versi Pro hanya bisa menunda update untuk sekian waktu. Dengan pola konsumen di Indonesia yang banyak menggunakan koneksi seluler, fitur update menjadi salah satu fitur yang cukup menguras kantong akibat menggunakan kuota pada waktu dan tempat yang tidak pas.

Artikel Terkait:

Share