Penyedia Layanan Cloud Sedang Mempertimbangkan Prosessor Selain Intel Setelah Penemuan Meltdown dan Spectre


Share

Bisa dibilang tahun ini dibuka dengan blunder oleh Intel ketika informasi mengenai cacat pada prosessor dengan kode nama Meltdown dan Spectre ditemukan pada setiap prosessor mereka. Bahkan pada saat peluncuran arsitektur terbaru mereka, Intel dipercaya sudah mengetahui kelemahan tersebut tapi masih meluncurkan produk untuk dikonsumsi publik. Publik biasa mungkin tidak akan terlalu berdampak pada Meltdown dan Spectre karena keamanan, tapi beberapa informasi penting seperti kunci enkripsi dan password yang bocor akibat Memory Leak akan bisa diambil oleh Hacker.

Bagaimanapun Intel yang menguasai 98% operasi data center sedunia menurut konsultan industri IDC, harus memikirkan jalan keluar terbaik, antara kehilangan konsumennya atau terpaksa menawarkan diskon. Perlu diingat bahwa sektor ini adalah salah satu sektor dengan penumbuhan unit bisnis tercepat.

Intel sendiri akan membantu konsumennya untuk mendapatkan pendekatan terbaik di sisi keamanan, performa, dan kompabilitas, pada statement perusahaan di hari Selasa (9 Januari 2018). “Untuk banyak pengguna, elemen performa adalah yang terpenting, dan kami secara fokus melakukan seluruh hal yang dapat kami lakukan untuk memastikan harapan mereka terpenuhi.”

Alternatif paling fisibel kali ini mungkin datang dari Advanced Micro Devices yang memiliki teknologi yang sama dngan chip Intel, yaitu x86. ARM atau GPU yang beredar memiliki alur pengembangan yang berbeda untuk tugas berbeda dari CPU milik Intel dan AMD.

Menurut Gleb Budman, pemilik firma Backblaze yang berbasis di San Mateo, membangun sistem dari chip ARM tidaklah akan terlalu sulit. “Jika ARM memberikan cukup kemampuan komputasi dengan harga lebih rendah atau daya lebih rendah dari x86, hal tersebut akan menjadi insentif kuat untuk kami pindah,” kata Budman. “Jika perbaikan x86 menjadikan penurunan performa secara drastis, hal ini bisa jadi dorongan tambahan untuk pindah ke ARM.”

Penyedia layanan cloud, Infinitely Virtual juga mengharapkan Intel untuk mengganti peralatan atau memberikan pengembalian biaya untuk mengganti kehilangan dari kemampuan komputasi, ucap Adam Stern sekalu Chief Executive. “Jika Intel tidak melakukan sesuatu agar hal ini kembali menjadi benar, kami akan mengganjar mereka dengan tidak membeli produk milik mereka,” ucah Stern yang perusahaannya hanya bergantung pada prosessor milik Intel.

Nvidia yang dikenal dengan GPU sendiri tidak bisa jadi pengganti langsung untuk CPU Intel, tapi dalam beberapa waktu kedepan, mereka akan menggantikan peran CPU untuk lini kerja baru seperti pengenal foto dan suara serta AI.

Beberapa perusahaan besar juga sedang mencoba-coba dengan alternatif Intel lainnya bahkan sebelum masalah keamanan ini ditemukan.

ARM Intel Meltdown Spectre

Bulan Maret lalu, Microsoft berkomitmen untuk menggunakan prosessor ARM untuk layanan cloud Azure, di bulan Desember Microsoft Azure menggunakan prosessor AMD pada data center mereka.

Alphabet selaku pemilik Google juga berkata pada 2016 bahwa mereka sedang mendesain sebuah server berbasis prosessor IBM Power9. Amazon dengan Amazon Web Service juga memilih GPU AMD sebagai layanan desain grafis yang diumumkan pada September.

Qualcomm dan Cavium juga sedang mengembangkan chip ARM yang ditujukan pada data center. Cavium mengatakan bahwa chip tersebut ditargetkan mampu mengimbangi performa dari chip Intel untuk aplikasi seperti database dan network penyedia konten yang membantu mempercepat waktu loading video online.

Cavium sedang bekerja dengan Microsoft dan beberapa penyedia layanan cloud lainnya. Cavium dan rival ARM mereka, Qualcomm sedang bekerja sama untuk mengurangi software yang harus ditulis ulang untuk chip ARM.

CloudfFlare Intel Meltdown Spectre

Cloudflare sebagai layanan jaringan cloud berbasis di San Fransisco juga telah mengevaluasi chip ARM. Penambalan keamanan baru bukan saja memperlambat performanya, tapi juga masalah keamanan menjadikan ini kesempatan yang tepat untuk mengevaluasi ulang penggunaan produk Intel, ucap John Graham Cumming selaku Chief Technology Officer Cloudflare.

Artikel Terkait: